Amukan Caledonian di Raja Ampat

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau dan luas perairan laut 5,8 juta km² (terdiri dari luas laut teritorial 0,3 juta km², luas perairan kepulauan 2,95 juta km², dan luas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) 2,55 juta km². Oleh karena itu laut Indonesia menyimpan kekayaan yang melimpah. Kekayaan flora dan fauna kelautan merupakan salah satu aspek penting yang perlu terus dillestarikan dan di eksplorasi. Namun potensi mikro flora-fauna kelautan tersebut belum juga tereksplorasi sebagai penyangga pangan fungsional pada masa depan. Terumbu karang merupakan satu dari sekian penyusun surga dasar laut yang menyimpan potensi dalam berbagai aspek. Terumbu karang mampu membawa keuntungan ekonomi. Fungsi vital terumbu karang lainnya adalah mampu melindungi pantai dari hantaman gelombang, sehingga mengurangi abrasi dan kerusakan. Terumbu karang juga berkontribusi kepada sektor penangkapan ikan dengan menyediakan daerah pemijahan dan asuhan, penyediaan makanan dan tempat berlindung beragam jenis mahluk laut. Menurut tim peneliti Greenpeace (2013) luas terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 km2, atau sekitar 18% dari total kawasan terumbu karang dunia. Luas terumbu karang yang dimiliki Indonesia saat ini yang sudah terpetakan mencapai 25.000 km² (BIG, 2013). Namun, terumbu karang yang masih dalam kondisi sangat baik hanya sekitar 5,30%, kondisi baik 27,18%, cukup baik 37,25%, dan kurang baik sebesar 30,45% (LIPI, 2012). Laut Indonesia memiliki sekitar 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang (KKP,2015).

Sebagian besar terumbu karang berlokasi di bagian timur Indonesia, di wilayah yang lazim disebut segitiga karang (coral triangle). Terumbu karang di kawasan ini merupakan salah satu yang terkaya dalam keanekaragaman hayati di dunia. Menurut para ilmuwan Kepulauan Raja Ampat adalah kawasan yang menjadi pusat keanekaragaman hayati terumbu karang didunia. Sehingga pada tahun 2014 diterbitkanlah keputusan menteri kelautan dan perikanan.  KEPMEN-KP No. 36 Tahun 2014  tentang Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat diterbitkan untuk memberikan perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan wilayah perairan di Kepulauan Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dengan beragam jenis ikan ekonomis, endemik, dan biota laut penting lainnya.

Akan tetapi pada tanggal 4 Maret 2017 kemarin, Terumbu karang di perairan raja ampat rusak akibat kandasnya Kapal Pesiar MV. Caledonia Sky. Akibat insiden ini dilansir dari bbc.com (15 Maret 2017), diperkirakan kerusakan terumbu karang mencapai 1.600 m2. Selain itu insiden kandasnya kapal pesiar MV. Caledonia Sky di perairan raja ampat mengakibatkan kehancuran habitat ekosistem struktural dan mengurangi atau menghilangkan keanekaragaman 8 jenis karang yang ada di Raja Ampat, termasuk acropora, porites, montipora, dan stylophora yang langka serta mengakibatkan multiplier effect. Jika dulu dikawasan tersebut merupakan schooling ground atau kawasan dimana ikan – ikan berkumpul, dengan rusaknya kawasan tersebut mampu merugiakan dalam bidang perikanan setempat. Selain itu kerugian juga terjadi dalam bidang pariwisata. Hal ini yang merupakan multiplier effect (dampak berlipat-lipat) yang ditimbulkandan opportunity lost (biaya atas kesempatan yang hilang). Area terumbu karang yang telah rusak sebenarnya memiliki kemampuan untuk pulih secara alami tetapi membutuhkan waktu yang lama. Beberapa penelitian mengungkapkan karang memiliki pertumbuhan yang cukup lambat. Jenis-jenis karang bercabang seperti Acropora dan Pocillopora memiliki pertumbuhan 6-8 cm/tahun sedang jenis karang masive seperti Porites dan Lobophyllia memiliki pertumbuhan 0.5-1 cm/tahun (Suharsono, 2008). Pertumbuhan karang yang lambat merupakan salah satu faktor yang membuat pemulihan karang secara menyeluruh membutuhkan waktu yang cukup lama. Tingkat kelangsungan hidup karang memberikan pengaruh terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang (Aisyah,2012). Rendahnya tingkat kelangsungan hidup karang, menjadi catatan penting dalam upaya pemulihan. Sehingga rusaknya kawasan terumbu karang di raja ampat bukan hanya merupakan persoalan kerugian materi.

Dikutip dari News.kkp.go.id (15 Maret 2017), Kapal Pesiar MV. Caledonia Sky telah melanggar beberapa peraturan pemerintah, yaitu Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 40 ayat (3), UU Nomor 31 Tahun 2004 jo.UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan pasal 7 ayat 2, KKPD Selat Dampier (Kepmen KP nomor 36/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2001 tentanf Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang (Kepmen LH 4/2001). Sehingga perlu dilakukan pengusutan, penyelidikan dan tindakan yang tegas dari pemerintah untuk menyikapi masalah ini.

Penulis : abdul Khamid

Share This Post