Mahasiswa Perikanan Brawijaya Canangkan Teknologi Ramah Lingkungan untuk Komoditas Cumi-Cumi yang berkelanjutan pada Kompetisi I-Envex Malaysia 2016

webARTCHA sebagai atraktor ramah lingkungan dimana cumi-cumi dapat meletakan telur dan planula cumi cumi dengan harapan dapat digunakan sebagai tempat feeding habit populasi cumi-cumi sekaligus spawning cumi-cumi.

Kita ketahui sebagian wilayah Indonesia adalah hamparan pulau-pulau yang luas dengan 2/3 total wilayah Indonesia adalah laut. Itulah kenapa Negara Indonesia mendapat julukan sebagai negara maritim. Negara yang begitu melimpah keanekaragaman hayati laut tetapi banyak sumberdaya yang belum terkelola dengan baik. Cumi-cumi misalnya yang mempunyai daging lezat, mengandung nilai gizi tinggi, dan juga merupakan komoditi ekspor dunia. Namun akhir akhir ini keberadaan cumi-cumi di perairan Indonesia mulai mengalami penurunan. Hal ini terbukti dengan terus meroketnya harga jual cumi di pasaran karena kurangnya pasokan dari nelayan. Selain itu yang menambah rasa keprihatinan adalah ketika melakukan observasi lapang tepatnya di desa nelayan daerah Archa lekok, Pasuruan. “Para nelayan di daerah tersebut mengaku hasil tangkapan cumi-cumi mereka terus menurun dari musim ke musim. Tentunya hal ini dipengaruhi oleh beberapa indikator antara lain eksplorasi populasi cumi-cumi yang terlalu tinggi dan kurangnya kesadaran masyarakat khususnya daerah persisir untuk menjaga ekosistem yang ada dilaut.” Ujar Muhamad Ridho Firdaus Mahasiswa Ilmu Kelautan FPIK UB, Sabtu (19/3/16).

Hal inilah yang membuat tiga mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Brawijaya tergugah pola fikirnya. Mereka membuat sebuah prototype yang mereka namai ARTCHA (Artificial Atractor Chepalopoda). Teknologi yang mereka claime pertama kali di dunia ini selain ramah lingkungan juga akan menjadi rumah baru bagi cumi-cumi mengingat kerusakan lingkungan utamanya laut sudah tak bisa dibendung lagi.

ARTCHA menggunakan System Basic Suistanaible Development Environment, sebuah teknologi yang efektif dan ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku dari pipa PVC dan juga karung goni. Penggunaan teknologi ini ditujukan agar telur cumi-cumi dapat menempel secara aman dan juga bisa digunakana untuk spawning and feeding habbit dari cumi-cumi . Tujuannya adalah agar komoditas cumi cumi dapat meningkat.

“ARTCHA memang kami peruntukan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Sangat efektif, murah dan ramah lingkungan. Harapan kami masyarakat nelayan khususnya dapat membuatnya sendiri dengan contoh prototype persis yang telah kita buat.” Tutur Muhammad  Imam Syafi’I, Mahasiswa FPIK UB angkatan 2013 asal Bojonegoro yang kebetulan juga menahkodai lembaga riset pada fakultasnya.

Teknologi ARTCHA ini pertama kali diterapkan di daerah Lekok, Pasuruan selama kurang lebih empat bulan lamanya. Dari percobaan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwasanya ARTCHA ini merupakan teknologi yang diinginkan oleh nelayan karena harganya relatif murah serta efektif dan efisien. “Meskipun teknologi ini sudah di uji coba dan nelayan menginginkan teknologi tersebut namun masih ada kekurangan pada ARTCHA. Untuk itu kami berencana untuk meperbaiki lagi selepas kompetisi I-Envex di Perlis Malaysia 8-10 April besok.” Tutur M. Ridho Firdaus. Kompetisi teknologi yang rutin diselenggarakan tiap tahun ini adalah kompetisi ilmiah internasional yang akan mereka ikuti untuk pertama kali kecuali M. Aris Munandar. Dari semua anggota kelompok, dialah yang paling senior. Aris didapuk menjadi mentor kedua juniornya dikarenakan sempat menyabet Silver Medal and Special Award from Ministry Of Education Thailand pada kompetisi ITEX 2015 di Malaysia.

“Rasa-rasanya ini adalah beban moral kalau saya tidak bisa mengantarkan adik-adik saya lolos menjadi juara pada I-Envex April nanti. Jujur saya selalu menasehati kepada mereka berdua (Imam dan Ridho) jangan berfikir pulang ke Indonesia membawa medali seperti saya dulu. Tujuan kita mengikuti kompetisi tersebut adalah mengenalkan pada dunia bahwa Indonesia tak kurang-kurangnya menyuplai sumberdaya manusia yang berkualitas. Prototype ini untuk masyarakat Indonesia. Kita sebagai mahasiswa memang selayaknya mengabdi untuk masyarakat.” (ed) –tutur Aris, Mahasiswa Universitas Brawijaya Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2012, Sabtu (19/03/2016).

Menggunakan produk-produk dalam negeri menjadi salah satu ungkapan rasa cinta tanah air. ARTCHA dengan keunggulan dan kekuranganya yang perlu diperbaiki perlu bantuan semua elemen masyarakat dan pemerintah demi terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia dengan tetap mencanangkan sumberdaya yang berkelanjutan.

Oleh : M. Imam Syafi’i

Share This Post